Jumat, 30 November 2012

Resensi Novel #RaksasaDariJogja


BIANCA TIDAK PERCAYA CINTA

Judul Novel : Raksasa Dari Jogja
Penulis : Dwitasari
Penerbit : PlotPoint Publishing (PT Bentang Pustaka), Jakarta, Cetakan I, Oktober 2012
Tebal : 270 Halaman (288 Halaman)
Harga : Rp 47.000,00 (Rp 37.600,00)

Pada zaman sekarang, novel bagi bagi remaja adalah hal yang sudah biasa untuk dinikmati. Kebanyakan remaja menyukai novel berbau romantis, inspiratif, jenaka, dan sebagainya. Kebanyakan penulis novel yang berbau romantis pasti akan membuat tokoh utamanya menyukai cinta. Namun lain halnya bagi Dwitasari dalam novel pertamanya Raksasa Dari Jogja yang membuat pandangan lain tentang hal itu.
Novel ini bercerita tentang seorang gadis bernama Bianca yang tadinya tidak percaya pada cinta, namun dia yang berusaha meraba hatinya dengan menyukai buku Biola Tak Berdawai milik Seno Gumira Ajidarma dan berusaha menemukan titik-titik cinta di hatinya.
Setting yang bertempat di kota istimewa Jogjakarta dan Jakarta ini menuai sebuah alur yang begitu emosional, menarik untuk dibaca dan penuh konflik yang cukup menggetarkan dalam perjalanan Bianca untuk mempercayai cintanya.

Novel ini dibuka dengan pemaparan kehidupan Bianca yang dalam kehidupan rumahnya tidak berlangsung harmonis. Dengan kedua orangtuanya yang selalu bertengkar, Bianca tetap berjuang untuk mendapatkan kebahagiaannya, walaupun dia sudah muak dengan apa yang dialaminya melihat orangtuanya sendiri yang selalu bertengkar.
Sampai akhirnya tiba bahwa dia tau sahabat yang dipercayainya tega mengkhianatinya karena telah merebut satu-satunya lonceng pemanggil harapan, Joshua, agar Bianca dapat percaya pada cinta. Bianca memutuskan meneruskan kuliah di Jogja yang akhirnya takdir mempertemukannya pada seorang pria gigantisme yang pada akhirnya membuat bianca jatuh cinta, yakin dan mampu percaya seutuhnya pada cinta.
Di sinilah Dwitasari mampu meramu masalahnya. Tidak semua perjalanan Bianca mulus, selalu ada masalah setelah dia mendapatkan kebahagiaan.
Sifat dewasa dan berpegang teguh pada pendirian membuat Bianca tidak pernah patah semangat dan selalu berusaha mencari makna-makna baru dalam setiap kesukarannya.
Begitu pula saat Kevin, saudara yang begitu menyayangi Bianca mempunyai pemikiran negatif pada Gabriel, pria gigantisme yang membuat hari Bianca penuh dengan cinta. Lewat alur yang menarik Dwitasari tidak membuat konflik menjadi begitu cepat dan kasar, namun pelan tapi pasti sehingga pembaca dibuat menebak-nembak apa yang akan terjadi selanjutnya.
Selanjutnya melalui sosok Binca dan Gabriel ini pembaca dibuat memahami apa arti cinta yang sebenarnya, tulisan-tulisan Dwitasari yang bumbunya begitu pas dan lebih dari biasa sangat pas dibaca bagi remaja maupun orang dewasa yang ingin mencari kata-kata cinta yang inspiratif. Walaupun Dwita termasuk kategori penulis baru tapi hasil karyanya mampu bersanding dengan karya-karya penulis profesional yang dalam kata-katanya begitu bermakna dan dewasa yang bahasanya mampu dipahami setiap orang.
“kalau enggak ngerti apa-apa tentang cinta, jangan ngomong dulu, deh, soal cinta”, kata-kata Kevin yang selalu mengena pada Bianca semakin membuat hatinya bertanya dan mantap mencari-cari tentang arti cinta sesungguhnya.
Tetapi saat Bianca mulai putus asa akan semua pencariannya, Gabriel si malaikat pembawa kabar baik selalu ada membuka pemikiran dan hatinya. “Apa gunanya rasa sakit dalam mencintai?” Gabriel menatap Bianca mantap. Mata itu mencairkan hati Bianca yang telah lama beku. “Untuk tahu arti bahagia yang sebenarnya. Bahagia ada karena kita tahu rasa sakit”.

Bagaimana ending-nya? Raksasa yang mebuat Bianca melihat ke atas saat berjalan berdua dengannya benar-benar telah mengubah hidupnya. Dia yang tadinya tidak percaya cinta sekarang telah diberi kekuatan untuk menghadapi kehidupannya, menyelesaikan masalah orangtuanya, memaafkan pengkhianatan sahabatnya, dan membuka hatinya untuk malaikat pembawa kabar baik untuknya.
Membaca novel ini sangat sulit menemukan kekurangannya, walaupun ini seri pertama namun terlihat jelas bahwa Dwitasari sudah sangat lihai meramu kata-kata. Kehidupan Bianca dijadikan oleh penulis bahwa cinta tidak selamanya berisi tentang hal-hal manis seperti yang remaja-remaja sekarang bicarakan. Kata-katanya sederhana tapi mengena. Novel ini sepertinya lebih mengedepankan tentang kehidupan yang berdasar cinta saja. Itulah sebabnya, konflik yang ada hanya mengacu pada masalah sehari-hari yang bisa saja diselesaikan dengan ringkas, tetapi dibuat berbelit-belit.
Sesungguhnya pertemuan antara Bianca dan Gabriel itulah yang akan dibahas oleh penulis. Lewat kata-kata yang begitu menarik dan tentang bagaimana cinta butuh pendewasaan dan bukan seperti yang dibicarakan orang-orang yang hanya mengerti tentang kesenangan saja, itulah kelebihannya. Bagaimanapun juga sangat sulit menemukan kekurangan dalam buku ini. J

1 komentar:

  1. Thanks sob, bermanfaat! Izin copas yaa... Kunjungi blog aku yang sederhana inii.. :3 Blogger Peer Thanks! :)

    BalasHapus